33 Tahun Udah Ngapain Aja?

Jangan berdoa "nanti" sukses

Hari ini dia tepat berusia 33 Tahun … Iyaaa … Usianya 17 tahun dengan 16 tahun pengalaman.

Tidak terasa, benar-benar tidak terasa. Usianya sudah hampir dua kali lipat anak ABG yang sedang merayakan “Sweet Seventeen” hari ini.

Dia sedih? Sebentar .. coba kita cek ingatannya dulu. Coba diingat-ingat semenjak dia lahir sampai saat ini. Seberapa banyak dia berdosa pada “Sang Waktu”.

Menurut catatan dia terlahir pada hari Minggu, 10 Agustus 1987. Pagi hari menurut informasi orang tuanya. Skip .. skip. Dia tak ada sedikitpun ingatan dari lahir sampai balita. Namun ada sedikit ingatan ketika masuk Taman Kanak Kanak (TK), seingatnya, dia cengeng dan awal-awal sekolah masih ditunggu Ibunya di depan ruang kelas. Masuk ke kelas 1 Sekolah Dasar (SD), saat itu masih sistem catur wulan (CAWU). Kelas 1 CAWU 1 dia ranking III, Kelas 1 CAWU 2 dia ranking VI, Kelas 1 CAWU 3 dia ranking IX, Kelas 1 CAWU 4 dia ranking XII. Hahahhaha. Dalam usia sedini itu dia sudah konsisten dan progresif. Secara angka naik, namun secara prestasi menurun.

Ingatan yang sulit dilupakan adalah ketika dia kelas 3 SD, Ibunya mengadakan rapat yang beranggotakan Ibu, dia, dan saudara lainnya. Ibu memimpin rapat dan langsung menyampaikan bahwa beliau akan diangkat menjadi Kepala Sekolah di tempat mereka bersekolah. “Bagaimana pendapat kalian?” Begitu tanyanya. Dia tidak mampu mengingat apa yang disampaikan oleh saudara-saudaranya. Dia hanya ingat intinya dia mengatakan: “Malu Bu, nanti diejek. Sekarang aja sering dibilang sombong kalau jadi anak Guru, gimana kalau jadi anak Kepala Sekolah”. Saat itu kita belum mengenal istilah bully atau perundungan. Entah bagaimana hasil rapat tersebut, yang jelas semenjak itu Ibunya menjadi Kepala Sekolah di sekolah tersebut sampai sekarang. Yup .. Ibunya memang sedang mengajarkan sistem demokrasi terpimpin. Tidak ada yang spesial pada masa dia SD. Diantara 3 saudara lainnya, memang dia yang paling “Tidak Pintar” dan “Tidak Berprestasi”. Kakak dan adik-adiknya semuanya Juara kelas berturut-turut dan prestasi-prestasi yang tidak remeh. Dia hanya pernah jadi Juara Kelas pada Kelas 1 CAWU 1. Haaa! Prestasi non-akademis? Pernah sih mewakili sekolah untuk lomba membaca puisi dan sudah langsung gugur di tingkat gugus/kecamatan. Pernah juga pentas menabuh di perhelatan sekolah, tapi sepertinya bukan karena dia pandai, dan tentunya dia mendapat posisi yang gak penting-penting amat.

Masuk pada ingatan pada masa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu ukuran kesuksesan anak adalah masuk pada sekolah Negeri favorit. Yup .. sesuai dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM/Nilai Ujian Akhir Kelulusan). Dia hanya bisa masuk sekolah favorit nomor 2. Sebagai informasi, saat itu kakaknya telah bersekolah di sekolah favorit nomor 1 begitu pula kedua adik-adiknya nanti. Dia sangat ingat, saat itu Ibunya dan Guru-Guru yang lainnya mengoreksi satu per satu NEM setiap siswa karena seringkali ada kesalahan ketik maupun perhitungan dari Dinas. Jika mau, saat itu dia sebagai anak laki-laki satu-satunya, Kepala Sekolah tinggal menjentikkan jari, NEM akan berubah. Ini nilai integritas dan idealisme yang diajarkan Ibunya. Akhirnya Ibunya mengarahkan untuk menempuh jalur formal untuk ikut tes di sekolah favorit nomor 1. Dia sangat ingat setiap hari pulang ujian (kalau tidak salah selama 1 minggu), dia diberikan hadiah makan di restoran cepat saji favoritnya, supaya dia senang. Emang dasar dia tidak berbakat, sangat berbeda dengan ketiga saudaranya. Hasilnya adalah nilainya tidak memenuhi syarat untuk masuk sekolah tersebut. Dia tau Kepala Sekolah SMP itu sahabat baik Ibunya, bisa saja beliau menggunakan privilege tersebut. Tapi kenyataannya, Tidak. Dia akhirnya tetap mengenyam pendidikan SMP di sekolah favorit nomor 2. Lagi-lagi tidak ada yang spesial. Kecuali dia mulai belajar hal-hal baik dan buruk. Mulai dari bolos sekolah dan bolos les yang kadang-kadang ketahuan. Mulai belajar merokok. Mulai naksir dan cinta-cintaan. Tapi agak aneh, orientasinya saat itu pada orang yang lebih dewasa. Pernah waktu kelas 3 SMP dia berpacaran dengan kelas 3 SMA. OMG!!! Ohhh yaaa ada satu ingatan yang sulit dilupakan ketika SMP. Saat itu sedang tren untuk tindik telinga. Dia mulai ikut-ikutan. Pertama dia coba tindik daun telinga kiri, menggunakan jarum, di kamar mandi sekolah! Kemudian pulang sekolah dia sengaja lewat di depan Ibunya, tidak ditegur. Besoknya langsung dia minta teman untuk menindik daun telinga kanan, kemudian dia pulang dan pamer. Taraaa … dia dimarah abis-abisan. ANEH .. anak bau kencur absurd banget.

Ohhh yaaa .. dia belum ada bercerita tentang Ayahnya dari tadi. Iya karena memang semenjak dia kecil sampai awal-awal SMP, seingatnya sangat sedikit waktu dengan Sang Ayah. Saat itu beliau sebagai Dosen dan Pakar Ekonomi memang sedang Berjaya. Hari-harinya cuma kerja, kerja dan kerja. Jasa beliau dipakai diberbagai perusahaan terutama perbankan. Dia memiliki dua ingatan yang membekas dan mungkin itu juga yang membentuk masa depannya. Pertama, beberapa kali beliau sengaja mengajak dia untuk mengambil “honor” atas jasanya sebagai Konsultan. Sambil lalu beliau berkata: “Ini enaknya jadi orang pintar, uang datang, gak perlu dicari-cari”. Sebagai anak kecil, dia pikir kerjaan Konsultan ya tinggal ngambil uang. Kedua, saat beliau mulai mengajarkan dia untuk menabung, dia diajak ke Bank. Saat itu antrian cukup panjang, kemudian beliau langsung dipanggil oleh Teller dan kami melangkahi seluruh antrian. Dia merasa aneh, tapi kemudian beliau berkata: “Teller ini Mahasiswa saya dulu, ini enaknya jadi Dosen, banyak orang-orang pintar yang hutang budi dengan kita”.

Lanjut ke ingatan semasa Sekolah Menengah Atas (SMA). Lagi, lagi dan lagi hasil ujian nasional, NEMnya tidak cukup untuk masuk ke sekolah favorit nomor 1. Dan … yaa .. yaa .. yaa, saudaranya yang lain berhasil masuk di sekolah favorit nomor 1 dan di atas dia. Saat itu kalau tidak salah, dia masuk di sekolah favorit nomor 5. Kemudian Ibunya kembali menawarkan untuk ikut tes masuk di sekolah favorit nomor 1. Karena dia sudah cukup dewasa, Ibunya menawarkan, memberi dia pilihan, tidak otoriter memaksakan kehendaknya. Saat itu cukup galau sih, karena sahabat baiknya semenjak SD ikut tes itu dan akhirnya lolos pindah sekolah. Tapi dia akhirnya menyatakan tidak ikut, entah apa alasan dia saat itu. Seperti yang sudah-sudah, secara akademis (diukur dari nilai rapor) dia cukup buruk. Iya bukan kurang baik, tapi cukup buruk. Haaaa! Pada saat itu dia merasa sangat bosan dengan pelajaran-pelajaran sekolah. Selama 3 tahun sekolah hanya satu pelajaran ketika kelas 2 yang dia sangat suka dan dia mencatat. Yaitu pelajaran Sosiologi, tidak tau kenapa. Ada satu kenakalan yang sering dia lakukan ketika rapotan. Karena selalu ada di ranking paling bawah, dia malu memperlihatkan rapor ke orang tuanya. Akhirnya dia punya ide untuk memanipulasi ranking. Dia lakukan dengan cara “men-stipo” ranking dari nomor urut puluhan menjadi ranking belasan ketika meminta tanda tangan orang tuanya. Nanti ketika dikembalikan ke Guru Wali Kelas, dia rubah kembali ke ranking sebenarnya. Bahkan pernah suatu ketika, saking asiknya liburan dia lupa mencatat ranking berapa dia sebelumnya. Alhasil pada saat harus mengembalikan rapor, dia bingung harus menulis angka berapa di rapor tersebut! Absurd!!! Kriminal!!! Tapi yang dia tidak pahami, kenapa orang tuanya dan Guru Wali Kelas tidak pernah mempermasalahkan itu. Padahal sangat kentara dia melakukan manipulasi tersebut. Entah .. mungkin itu cara mereka mengajarnya. Sisanya masa SMA dia isi dengan naksir-naksiran, cinta-cintaan, pacaran. Bahkan dia masih ingat nasihat orang tuanya saat itu: “Dik, pacaran jangan keras-keras yaaa”. Hahhahahahha. Entah apa maksud mereka saat itu.

Berikutnya merupakan titik balik yang bisa dikatakan merubahnya 180 derajat. Merasa cukup puas dengan masa remajanya. Berada di zona nyaman namun tetap diajarkan kesederhanaan. Dia memutuskan ikut jejak Kakaknya untuk kuliah keluar Bali dan merantau. Awalnya memang tidak sengaja memilih Jurusan Komputer. Mungkin ini yang namanya takdir. Ciehhh … Masih segar diingatannya. Beberapa Paman, yang sangat dia hormati kala itu, mengatakan: “Yakin ambil jurusan komputer? Lama lho nanti kuliahnya. Gak lulus-lulus!” Padahal sebelumnya saat dia ingin jadi Arsitek juga dilarang karena takut lulusnya lama. Nahhh .. jadilah hari-harinya kala itu dia SALAH BERDOA! Setiap hari dia berdoa: “Ya Tuhan, tolong berikanlah hamba LULUS KULIAH TEPAT WAKTU”. Jadilah semester demi semester dia berusaha lulus dengan cepat. Syukurnya dia berada di Kampus yang sangat disiplin dan menjunjung tinggi integritas. Dia ada kesempatan memperbaiki kenakalan dimasa remaja. Sehari-hari perkuliahan, Kampusnya punya budaya organisasi untuk toleransi keterlambatan “nol menit”. Jadi kita hanya boleh terlambat 59 Detik! Iya benar-benar DISIPLIN, toleransi nol menit. Jangankan Mahasiswa, Dosenpun jika terlambat atau memasukkan Mahasiswa yang terlambat akan ada konsekuensinya. Jadilah dia mengalami sebuah pengalaman pertama dan terakhir di hidupnya. Saat itu dia begadang untuk persiapan ujian. Dia bangun kesiangan dan sudah ditinggal teman-teman sekontrakan ke Kampus. Begitu terbangun, dia langsung kalap ambil baju kemeja dan sepatu. Langsung pakai dan tancap gas ke Kampus. Yaaa .. TIDAK MANDI. Dari kasur, apa adanya, begitu wujudnya sampai Kampus. Sialnya dia pakai celana tidur (piyama) masuk ruang ujian. Duh! Satu hal lagi .. INTEGRITAS. Ujian di Kampusnya dibuat sedemikian rupa supaya tidak bisa satu orangpun melakukan kecurangan, mencontek misalnya. Terutama untuk Mahasiswa semester awal. Jadi kampus berusaha menanamkan karakter luhur untuk percaya dan tanggung jawab pada kemampuan sendiri. Jadilah dia dalam kondisi well-motivated. Tidak semua, ada beberapa mata kuliah yang dia sangat suka dan dia cukup baik di mata kuliah tersebut. Singkat cerita, menjelang semester akhir dia sadar DOAnya sejak awal kuliah itu SALAH. Tiba-tiba dia teringat ajaran Guru-Guru mulai dari TK. Mereka mengajarkan kita: “Gantungkanlan cita-citamu setinggi langit”. Yahhh .. mungkin karena terlalu muda, otak kita belum bisa memahami maksud mereka. Iyaaa benar. Target, apalagi cita-cita harus setinggi-tingginya. Jika diibaratkan setinggi langit, kalau jatuh sedikit masih setinggi awan. Jatuh sedikit lagi masih setinggi gunung. Jatuh lagi, masih setinggi pohon. Yang jadi masalah adalah targetnya saat awal kuliah, karena doktrin yang salah dari “Paman”nya, hanya setinggi pohon. Remaja tanggung yang cukup anti-mainstream pada masa pubernya, ditakut-takuti tentang susah dan mengerikannya dunia Kampus. Tapi kenyataannya, di semester 7, cukup 3 Tahun 6 Bulan dia sudah LULUS KULIAH. Total Mahasiswa asal Bali di kampus itu sekitar 30an orang. Dia salah satu dari 3 Mahasiswa asal Bali yang lulus di semester 7. Ditambah lagi, 2 orang temannya itu adalah Mahasiswa Jalur Prestasi (Semacam Kelas Unggulan). Dia hanya Mahasiswa kelas reguler. Dia lulus lebih dahulu dibandingkan teman-temannya yang jauh lebih pintar. Seandainya saat itu targetnya adalah lulus 3 Tahun, Cumlaude dan beasiswa penuh, mungkin ……, ini mungkin ya ……. Ahhh sudahlah, jadikan pelajaran.

Begitu tidak sengaja lulus cepat. Tidak sesuai rencana dan target awal. Jelas saat itu dia mengalami “fresh graduate dilemma” (suatu kejadian dimana lulusan perguruan tinggi tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah lulus). Saat itu mayoritas teman-temannya masih kuliah dan sedang menyelesaikan Tugas Akhir. Dia hanya sedang menunggu wisuda karena semua proses administrasi Yudisium telah dia selesaikan. Kisah selnjutnya, muncul lagi pelajaran hidup yang mendewasakannya. Sambil menunggu wisuda, dia mendapat tawaran untuk mengelola event besar. Tidak tanggung-tanggung. Dia menjadi penanggung jawab wilayah untuk event Bank Syariah BUMN yang akan masuk ke pusat perbelanjaan (mall) untuk promosi. Setiap minggu “Promotion Booth” dari bank tersebut akan berpindah dari satu mall ke mall lain. Dengan pengalaman nol besar dalam dunia tersebut, hari pertama dia sudah melakukan kesalahan besar, teramat besar. Peralatan yang dikirim semua dari pusat (Jakarta) harus dirakit setelah mall tutup (Pukul 23.00) dan harus siap ketika mall buka (09.30). Tukang lokal yang dia gunakan, jangankan merakit booth, merapikan karpet saja mereka tidak bisa. Duhhh! Syukur saat itu ada tim dari Jakarta yang posisinya di atas dia dan bisa mengambil keputusan cepat. Setelah dirasa tukangnya tidak mampu, sekitar pukul 01.00 subuh tim Jakarta mengambil alih dan ternyata mereka sudah menegosiasi tukang-tukang yang saat itu sedang bongkaran booth lain di mall tersebut. Jadilah tukangnya dipecat dan digantikan tukang lain. Kemudian beliau mengajarkan dia sebuah keahlian, bahwa yang dilakukannya saat itu adalah “Manajemen Situasi”. Manajemen situasi adalah suatu keahlian. Keahlian dimana menyadari segala hal di dunia ini memang ada teori dan praktiknya. Teori dan praktik selalu ada gap (kesenjangan). Gap atau kesenjangan yaaa, bukan pertentangan. Segala perencanaan di atas kertas seringkali kita merasa sudah memikirkan semuanya. Namun tidak semua hal tersebut ketika kita bawa pada realita akan dapat dijalankan. Akan ada dinamika dalam prosesnya. Disini kemampuan kita dalam masa kritis tersebut, yang akan menjadi ukuran kualitas kita sebagai seorang penanggung jawab atau pemimpin. Dia semakin memahami ini ketika di salah satu mall berikutnya dia berhadapan dengan kepala cabang yang sangat targeted (setiap mall menjadi tanggung jawab kepala cabang yang dijadwalkan). Kepala cabang tersebut ngotot meminta ada flower bucket yang besar menghiasi booth. Sedangkan di gambar desain booth dan perlengkapan, tidak ada daftar tersebut. Kepala cabang tersebut terus menerus menekannya namun dengan cara yang sangat persuasif. Kepala cabang tersebut berhasil membuat dia merasa bersalah, padahal dia sudah melakukan sesuai yang diperintahkan oleh pusat. Merasa kewalahan akhirnya dia menelepon atasannya di pusat. Perintah atasannya sangat singkat dan cepat: “Beli flower bucket dengan nilai 1jutaan, potong dari gajimu. Berikan flower bucket itu untuk hari pertama, hari berikutnya gak akan ditanya lagi”. Dia langsung menjalankan perintah tersebut dan ternyata benar. Setelah dia wujudkan keinginan Sang Kepala cabang, hari-hari berikutnya tidak ditanya lagi walaupun tidak ada flower bucket tersebut. Pelajaran yang dia dapatkan adalah dalam suatu negosiasi, yang terbaik memang win win solution. Namun ketika kemampuan negosiasi kita tidak sebanding dengan pihak kedua, apapun hasilnya kita harus terima dan jalankan konsekuasinya. Lagi lagi ilmu Manajemen Situasi memang harus terus menerus diasah. Singkatnya, dalam mengelola event tersebut dia GAGAL. Pada minggu ketiga ketika dia melampaui kekuatan mental dan psikisnya saat itu, dia over stress, dan akhirnya jatuh sakit. Dalam kondisi itu, akhirnya dikirimkan leader dari Jakarta untuk menggantikan posisinya dan akhirnya dia menjadi asisten leader tersebut. Tidak ada penyesalan sedikitpun, karena dalam proses tersebutlah soft skillnya berkembang. Memang dasarnya dia tidak bisa menganggur. Setelah event tersebut berakhir, dia masih menunggu jadwal wisuda dan teman-temannya saat itu sudah sidang Tugas Akhir, mereka saling merekrut. Mereka mendirikan Software House (perusahaan yang menawarkan jasa pembuatan perangkat lunak). Proyek pertama langsung dia dapatkan dan dengan sigap mereka kerjakan. Proyek pertama tersebut terbilang sukses dari sudut pandang pelanggan. Namun sebenarnya, proyek tersebut lebih besar biaya dari keuntungan. Akhirnya tidak sampai proyek kedua, mereka BUBAR. Teman-temannya mendirikan Software House lain dengan jumlah orang yang lebih sedikit. Dia tidak ikut karena dia memutuskan pulang ke Bali.

Di Bali, kampung halamannya, dia tidak lama. Kurang lebih hanya 3 bulan. Dia akhirnya memutuskan untuk ikut tes salah satu perusahaan BUMN dan sekaligus tes Program Magister. Sungguh kebetulan, baik tes untuk menjadi pegawai BUMN dan tes Program Magister dilaksanakan di tempat yang sama, di gedung serba guna Kampus yang dia tuju. Perbedaannya hanya pada hari dilaksanakan tes. Entah kenapa tes BUMN dari hari pertama dia sudah tidak terlalu bersemangat, pikirannya hanya tertuju pada persiapan tes Program Magister. Jadi, entah apa hasilnya pada saat itu dia langsung fokus untuk ikut beberapa tes tulis dan wawancara Program Magister. Akhirnya, jadilah dia resmi menjadi Mahasiswa Program Magister. Saat itu dia salah satu dari 10 Mahasiswa yang lolos pada Program Magister tersebut. Menariknya, dia satu kelas dengan salah satu Dosen dan beberapa kakak tingkat waktu dia mengambil kuliah Sarjana. Awalnya dia sempat rendah diri karena secara kualifikasi dan pengalaman kalah jauh dibandingkan dengan mereka. Beberapa diantara mereka sudah menjadi Dosen, sedangkan dia hanya anak “fresh graduate” biasa. Satu hal yang dia ingat “Jangan salah berdoa !!!”. Hehehe. Maka jadilah dia pasang target dan terus berdoa yang dia rasa cukup tinggi saat itu. Dari awal dia berdoa: “Ya Tuhan bimbinglah saya agar lulus 3 semester dan Cumlaude”. Target yang sangat tinggi untuknya. Seseorang yang tidak pernah punya prestasi akademik dan semenjak remaja selalu ranking terbawah di kelas. Karena masih sangat hangat dengan suasana perkuliahan, kebanyakan mata kuliah diselesaikannya sesuai dengan target. Hanya pada beberapa mata kuliah yang dia merasa kurang puas. Beberapa mata kuliah tersebut akhirnya mengajarkan dia, “janganlah memiliki idealisme yang kaku, jadilah dinamis, kadang terlihat pintar menjadi penting dibandingkan hanya pintar namun tidak terlihat”. Sambil berproses terus menerus, dia semakin terinspirasi dengan Dosen-Dosen dan teman-teman seperjuangannya saat itu. Dia sangat termotivasi dan bersemangat. Jadilah dia seorang “YES MAN”. Apapun peluang yang ditawarkan kepadanya, langsung dia sampaikan: “Iya, saya mau”. Salah satu hal yang cukup menjadi pelajaran untuknya sampai saat ini, adalah ketika ada seorang teman yang menawarkan pekerjaan sebagai Database Administrator (DBA). Dia langsung mengatakan: “Iya, saya mau”. Celakanya, salah satu mata kuliah yang menjadi dasar kemampuan pada pekerjaan tersebut adalah Structure Query Language (SQL). Dulu, ketika Sarjana, semua mata kuliah yang ada kaitan dengan SQL, dia hanya mampu maksimal mendapatkan nilai C+. Ahhh .. sudahlah sudah terlanjur masuk, karena peran teman yang mereferensikannya. Mulai hari pertama kerja dia sebenarnya sudah gugup dengan tugas-tugas yang diberikan. Namun disinilah dia belajar tanggung jawab dan menumbuhkan “passion of success”. Dia sudah buktikan, ketika kita ada masalah, kebuntuan, kuncinya hanyalah BERUSAHA. Terus berusaha. PANTANG MENYERAH. Selesaikan tanggung jawab. “Ketika sudah berusaha terus menerus, entah dari mana datangnya jawaban, masalah serta merta akan selesai”. Pekerjaan menjadi DBA sangat matematis. Komputer memproses semua perintah dan logika yang dia buat. Komputer tidak bisa berbohong, atau “gak enakan” seperti manusia. Dia pernah ada di situasi untuk membuat suatu barisan perintah komputer, tidak ada jawaban sama sekali di otaknya. Dia coba hari ini gagal. Besoknya dia coba, gagal lagi. Tiba-tiba di hari ke-3 di barisan perintah yang sama. Entah apa yang dia rubah, dia perbaiki, akhirnya berhasil. Dia tidak tau darimana dia dapat jawabannya, yang dia lakukan hanya berusaha dan tidak menyerah. Teori bahwa hasil tidak akan pernah menghianati usaha, SANGAT BENAR.

Kembali lagi ke ingatan pada saat menempuh Program Magister, semester tiga semua mata kuliah sudah selesai dan dia sudah bisa mengambil Thesis. Dia pilih pembimbing yang menjadi favoritnya. Sesuai dengan doa sejak awal kuliah dia langsung menyampaikan kepada pembimbing: “Bu tolong bantu saya agar lulus semester tiga dan saya mendapat predikat Cumlaude”. Dosen tersebut langsung “nyengir” dan mulai “menyiksa” dia. Hahahah. Jadilah dia diarahkan untuk menyusun suatu Thesis yang merupakan kombinasi bidang ilmu Sistem Informasi, Informatika dan Ilmu Ekonomi. Hiksssssss ... Dia masih ingat, saat-saat dia buntu dan pulang ke Bali, dia konsultasi dengan Ayahnya. Beliau sampai mengatakan: “Thesismu gak bakal selesai dalam satu tahun, nego lagi sama Dosennya” Hiksssssssssss … Namun karena dia sudah cukup tertempa, dan berbagai pengalaman hidup yang membuat dia belajar, dia tidak menyerah dan tetap komitmen dengan target awal. Berbagai drama telah dia lewati. Mulai dari tempat studi kasus yang diakusisi perusahaan lain dan akhirnya membuat dia pindah studi kasus, belajar ilmu-ilmu baru yang tidak diketahui oleh orang-orang terdekat, sampai Dosen penguji yang seperti artis sehingga sangat sulit untuk ditemui. Akhirnya … ohhh … akhirnya … dia tidak sampai menggapai langit. Targetnya tidak kesampaian. Dia masih jatuh di atas awan. Dia lulus 1 Tahun 8 Bulan dengan predikat Cumlaude. Lagi-lagi dia wisuda hanya bertiga, karena teman-teman seangkatan yang jauh lebih hebat dan pintar daripada dia, belum menyelesaikan Thesis. Dia cukup puas melihat raut wajah kedua Orang Tuanya, saat dalam prosesi wisuda tempatnya berbeda dengan ribuan Mahasiswa lain. Orang Tuanya melihat dia dalam prosesi wisuda, dua kali menaiki panggung dan menerima penghargaan sebagai lulusan terbaik dengan predikat Cumlaude. Perasaannya sebenarnya biasa-biasa saja kala itu, tidak ada kebanggaan karena dia tau dia hanya di awan, masih ada langit, masih ada langit di atas langit. Dia hanya sangat senang dan bahagia melihat wajah kedua Orang Tuanya kala itu.

Sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam kultur budaya Bali, tidak ada pilihan untuknya. Lulus kuliah, dia bereskan beberapa hal di kota tempat dia menempuh pendidikan, kemudian dia pulang ke Bali. Saat itu sedari awal dia bernegosiasi dan mengatakan kepada Orang Tuanya: “Saya mau pulang ke Bali, namun tidak mau jadi PNS”. Pikiran tersebut sebenarnya hasil doktrin teman-teman seperjuangannya. Saat itu dia sudah tertarik pada dunia per-Dosen-an. Dia tidak tau perkembangan dunia Kampus di Bali. Akhirnya dia mengajukan lamaran pekerjaan untuk menjadi Dosen pada dua Kampus Swasta bidang Komputer. Kampus A adalah Kampus yang lebih dulu ada dan berkembang, sehingga memiliki Kampus yang jauh lebih megah. Kampus B saat itu baru berusia 3 Tahun dengan kondisi fasilitas yang jauh dari bayangan dia, dibandingkan dengan Kampus-Kampus di kota tempat dia menempuh pendidikan tinggi. Singkat cerita, dia dipanggil untuk wawancara oleh kedua kampus tersebut. Kampus B sampai dua kali mewawancara dia. Pertama, pada saat micro teaching dihadapan para Dosen dan pimpinan kampus itu. Kedua, dia dipanggil ke rumah pribadi Ketua Kampus B. Kembali dia menghadapi kebingungan antar pilihan yang ada. Sebagai anak yang terdidik dari keluarga demokratis, dia diskusikan pilihan ini dengan keluarganya. Orang Tuanya jelas mengarahkan dia untuk mengabdi pada Kampus A, karena pertimbangan mereka bahwa Kampus tersebut sudah “well-establish”. Insting orang tua seberapapun kerasnya mereka mendidik, pasti tidak ingin melihat anaknya tertatih-tatih di Kampus yang baru berusia 3 Tahun. Dengan pertimbangan rasa nyaman, dan aura yang dia rasakan saat itu akhirnya dia memilih untuk mengabdi pada Kampus B. Entah pilihan mana yang benar saat itu, yang jelas sampai saat ini tidak ada penyesalan sedikitpun. Benar dan salah hanyalah sebuah justifikasi berdasarkan sudut pandang. Semua proses tersebut harus dijalani. Awal mengabdi di Kampus tersebut, dia sangat berhasrat dengan belajar menjadi seorang Dosen. Walaupun bisa dikatakan tidak ada senior untuk berguru, karena semuanya masih sangat muda disana. Dia terus belajar mengajar, meneliti dan membuat kegiatan pengabdian masyarakat. Keahlian yang benar-benar dia nikmati dan dirasakan meningkat adalah mengajar, karena budaya kampus tersebut untuk menjadi seorang pengajar yang harus luar biasa. Singkat cerita, karir manajemennya bisa dikatakan cukup bagus disana. Karena memang benar, “Di perusahaan besar kita akan belajar manajemen yang baik, namun di perusahaan kecil kita akan belajar menjadi pemimpin yang baik”. Namun bisa dikatakan dia terlalu larut dengan tantangan-tantangan dunia manajerial yang harus dia gapai. Dia sempat lupa cita-cita awal untuk menjadi seorang Dosen yang hebat. Jika semesta mendukung, ya menjadi seorang Guru Besar lah, Professor. Di tengah-tengah pengabdian mengembangkan keahlian manajerial, nyatanya dia lengah. Karir dunia per-Dosenannya tidak terlalu melesat seperti yang dia bayangkan. Pergolakan tersebut memuncak setelah dia 8 Tahun belajar dan mengabdi di Kampus B. Selama ini dia hanya disilaukan perasaan-perasaan bahagia yang ternyata hanya fatamorgana. Memang indah, tapi hanya sesaat. Semua hal yang dia kira pencapaian ternyata hanya ranting tinggi yang tidak terlalu kokoh. Setiap saat dia bisa jatuh karenanya. Jika harus balik arah, dia juga bisa terjungkal dan jatuh lebih menyakitkan. Saat itu dia melihat sembarang pohon yang ada di seberang. Ada beberapa pohon. Pohon pilihan yang bisa dia hinggapi. Akhirnya dia putuskan untuk melompat ke pohon yang lebih tinggi. Perihal dia jauh dari puncak pohon tersebut tidak masalah. Karena pengalaman telah mengajarkan dia. Dia hanya butuh mencari dahan yang cocok buat dia. Dahan yang cocok tersebar di banyak pohon. Dahan yang kuat akan dia tapaki. Dahan yang indah akan dia hiasi. Dahan yang berbuah akan dia nikmati. Semua dahan tersebut akan menjadi jejak langkah dan karya-karya yang abadi.


Harimau mati meninggalkan belang

Gajah mati meninggalkan gading

Ini hidup harus selalu berkembang

Semoga berakhir menjadi sesuatu yang penting


Dewadi – 10 Agustus 2020

Posted in Pikiran Acak on Aug 10, 2020