Keluarga Bali yang Outlier
Istilah “outlier” juga sering disebut sebagai pencilan. Istilah tersebut jika dalam dunia statistika dapat dimaknai dimana suatu titik data yang terpaut jauh dari titik data lainnya. Jadi ibaratnya dalam satu lingkungan terdiri dari 10 anak-anak. Kemudian ditanyakan apa makanan atau cemilan yang disuka. Hasilnya 4 dari 10 anak suka makan Coklat, dan 4 dari 10 anak suka makan Permen. Terdapat 2 anak yang outlier dengan menyatakan suka makan Sayur Brokoli. Nah ketika menggunakan instrumen rata-rata, tentu 2 anak outlier tadi akan mengacaukan hasil dari analisa data. Pertanyaan besarnya, apakah 2 anak outlier tersebut bisa disebut menyimpang dari rata-rata anak lainnya? Tentu jawabannya adalah IYA ! Kemudian jika ditelisik lebih mendalam, apakah 2 anak outlier tadi menjadi salah ketika anak-anak seharusnya suka Coklat dan Permen namun mereka (2 anak outlier) malah menyukai Sayur Brokoli.
Masyarakat Bali sangat terkenal karena mampu mempertahankan sekaligus mengembangkan budaya, tradisi, dan adat istiadatnya secara turun temurun. Kenapa saya katakan mempertahankan sekaligus mengembangkan? Karena pada kenyataannya beberapa tradisi tidak bertahan sepenuhnya, namun berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Sebagai contoh dalam hal kasta. Dalam beberapa referensi dikatakan sistem kasta di Bali adalah sistem organisasi sosial yang mirip dengan sistem kasta yang ada di India. Telah disadari dahulunya penerapan sistem kasta telah menyimpang dari ajaran sumbernya yaitu Veda (Kitab Suci Agama Hindu). Hal tersebut diperparah dan dipolitisasi dengan kolonialisme pemerintah Hindia Belanda yang menerapkan politik Devide et Impera. Seiring perkembangan zaman dan didorong oleh semangat kemerdekaan, tentunya orang Bali lebih banyak belajar. Pasca kemerdekaan sistem pemerintahan Aristrokrat (Negara harus dipimpin bangsawan, orang kaya, dan yang tinggi martabatnya) berganti ke sistem Demokrasi. Pada akhirnya orang Bali kembali pada pemahaman sistem Warna (bersumber dari Veda) yaitu sistem pengelompokan masyarakat berdasarkan profesi yang ditekuni, serta bakat dan keahlian yang dikuasai. Pada tulisan sebelumnya sudah pernah diceritakan bahwa saya bertumbuh dari orangtua yang sangat demokratis. Hal tersebut mungkin karena mereka (kedua orangtua) sejak kecil dipaksa untuk jauh dari rumah dan melihat dunia yang lebih luas. Mereka mendidik kami untuk menjadi orang yang baik dan benar dengan makna yang lebih luas (tidak hanya yang berlaku di Bali). Sehingga semua anak-anaknya (saya saudara berempat) semenjak lulus SMA berkesempatan menempa diri jauh dari kenyamanan rumah. Akhirnya kami lebih mempercayai nilai-nilai yang sifatnya universal, tidak hanya nilai yang berlaku secara lokal di Bali. Jadilah kami “Keluarga Bali yang Outlier” berdasarkan pernikahan saya dan tiga saudara saya yang lainnya:
- Saya menikahi perempuan Bali yang berasal dari kasta yang “lebih tinggi”. Sehingga istri saya harus “nyerod” (turun kasta) dan kami harus melangsungkan tradisi pernikahan “ngerorod” atau “kawin lari”;

- Adik saya yang ke-tiga, menikah dengan pria kelahiran Yogyakarta dan “pindah Agama” mengikuti Agama yang diyakini suaminya;

- Adik saya yang ke-empat, menikah dengan pria keturunan Bali yang besar di Surabaya. Karena kasta suami yang “lebih rendah” maka adik saya harus “nyerod” dan menikah dengan tradisi “ngerorod” seperti yang saya lakukan;

- Kakak saya yang pertama, menikah dengan pria WNA dari Brazil. Suaminya ikut dengan Agama yang diyakini kakak saya dan harus melangsungkan upacara “Sudhi Wadani”.

Seperti diawal tulisan ini, jika dinilai dari standar-standar yang berlaku di Bali saat ini jelas kami dapat dikatakan “Keluarga Bali yang Outlier”. Ketika dipahami secara hitam dan putih, pernikahan kami berempat adalah salah menurut standar ideal orang Bali. Tetapi pada akhirnya siapa yang berhak mengklaim “kebenaran”? Kata orang bijak “biarlah kebenaran tersebut mencari jalannya sendiri”.

Posted in Pikiran Acak on Oct 09, 2022