Pendidikan Proses yang Harus Menyenangkan

Ketika suatu kata disebut yaitu “pendidikan” apa yang ada di benak kita? Jelas kata tersebut tidak akan asing. Kata tersebut jelas tidak tabu hanya untuk status sosial bahkan status ekonomi tertentu. Pendidikan adalah kata yang bisa diucapkan, dipahami, bahkan “dikonsumsi” oleh hampir semua kalangan dewasa ini.

Jika dikutip dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pendidikan dapat diartikan: /pen•di•dik•an/ n proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Jika ditinjau dari etimologi, kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar” (sumber: wikipedia).

PENDIDIKAN ADALAH PROSES

  • Pertanyaan: proses apa?
  • Jawaban: proses yang mengakibatkan terjadinya perubahan
  • Pertanyaan: apa yang dirubah?
  • Jawaban: sikap dan tata laku
  • Pertanyaan: siapa saja yang bisa dirubah?
  • Jawaban: bisa orang per orang bahkan bisa sekelompok orang

Jika kita benar - benar bisa memahami arti kata pendidikan, jelas tidak ada alasan untuk tidak mendapatkan pendidikan. Pendidikan sangat LUAR BIASA. Janji dari suatu pendidikan adalah perubahan. Dampaknya tidak hanya ”incremental” pada setiap orang. Pendidikan ketika berproses pada kelompok yang tepat akan terjadi “compound effect”. Sebagai analogi, Si A memahami 1, kemudian mendapat pendidikan akan menjadi 2, lanjut mendapat pendidikan lagi menjadi 3. Kemudian Si A yang sudah memahami 3 bertemu dengan Si B yang memahami 4. Hasilnya? Bisa saja menjadi 7 (Pemahaman Si A + Pemahaman Si B). Pada sistem pendidikan yang tepat, pemahaman Si A dan Si B bisa menjadi 81. Wihhhh kok bisa? Yaaa karena dalam proses tersebut bisa terjadi eksponesial. Bingung? Jadi analoginya, pemahaman Si A “pangkat” pemahaman Si B (3^4) adalah 81.

Bagaimana sih agar terjadi eksponesial alih-alih hanya pemahaman “incremental” yang kita dapat dalam pendidikan? Pendidikan itu haruslah menyenangkan. Hal yang menyenangkan akan menstimulasi otak kita untuk bekerja. Bumbui dengan perasaan gairah (passion) agar termanipulasi untuk terus berproses dan haus akan pendidikan itu.

PENDIDIKAN HARUS MENYENANGKAN

Saya sangat merasa beruntung masih hidup dan sempat mengalami masa Pandemi COVID-19. Karena virus tersebut telah bermutasi ke versi-versi kekinian, kita juga harus terus berevolusi dong.

  • Pertanyaan: siapa sih yang bertugas menuntun, mengarahkan, atau memimpin dalam pendidikan?
  • Jawaban: kalau di tingkat sekolah sering disebut Guru dan di tingkat perguruan tinggi disebut Dosen. Tapi beberapa sekolah “British wannabe” sering dipanggil Miss dan Mister
  • Pertanyaan: apa sih tugas dan tanggung jawab mereka dalam pendidikan?
  • Jawaban: menuntun keluar
  • Pertanyaan: keluar dari mana kemana?
  • Jawaban: dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi semakin tahu

Selama masa Pandemi ini saya lebih mengambil peran sebagai pembelajar. Karena memang saat ini status sebagai Dosen Tidak Aktif yang mendapatkan tugas belajar. Peran ini memberikan saya kesempatan sebagai pengamat dari teman-teman pendidik yang “terpaksa” merubah kebiasaan mengajar yang Pandemi-able. Dari hasil observasi dan wawancara tidak terstruktur dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran yang “full online” SANGAT TIDAK MENYENANGKAN. Hal yang menggelitik adalah kesimpulan ini dari pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Ekosistem pendidikan tersebut adalah tingkatan yang tertinggi. Nahhh .. apa kabar pendidikan di tingkat lebih bawah? Apa kabar di Sekolah Menengah Atas (SMA)? Apa kabar di Sekolah Menengah Pertama (SMP)? Apa kabar di Sekolah Dasar (SD)? Apa kabar di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) .. Duarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr !!!

Kita harus jujur bahwa proses ini salah. Sangat salah. Benar-benar luar biasa salah.

Namun, sangat kontraproduktif jika mencari siapa yang salah. Buang-buang waktu dan energi.

Siapa PELAKU dan siapa KORBAN?

  • Pemerintah sebagai regulator?
  • Lembaga pendidikan sebagai operator?
  • Orangtua atau wali murid sebagai investor?
  • Guru, Dosen, Miss, dan Mister sebagai pengajar?

Biarlah tulisan sederhana ini mencatat. Berdasarkan opini saya, dalam 1 dasawarsa dari sekarang, siswa mulai dari tingkat PAUD sampai Perguruan Tinggi akan memiliki karakter yang “aneh” jika proses seperti ini diteruskan.

Entitas pendidikan harus berevolusi secara radikal agar Pendidikan Tetap Menyenangkan.

Posted in Pikiran Acak on Jul 14, 2021